Desain ini Bagus, Desain itu Jelek.

Seringkali saya ditanya di medsos & di email: “Mas, tolong dong kasih input buat logo karya saya ini”.
Pas saya cari, yang ada cuma logonya saja, maka saya balas: “Saya tidak bisa kasih input kalau tidak tahu konsepnya. Tolong kirimkan minimal profil si klien, profil target audiens-nya, dan tujuan membuat logo ini.”
Setelah itu, barulah ia mengirimkan konsep-konsepnya.

Contoh di atas umum terjadi. Orang menyangka desain grafis itu fungsinya cuma mengekspresikan keindahan saja, seperti karya seni murni – lukisan, patung, dll. Keindahan yang paling dielu-elukan. Padahal desain grafis mengemban fungsi/tanggung jawab yang sangat banyak.
(Istilah “keindahan” rasanya terlalu sempit, desainer lebih sering memakai istilah: “keselarasan/keharmonisan/kecocokan.”)

Sebuah logo produk misalnya, bisa jadi mengemban semua fungsi/syarat (konsep) berikut ini:
1. Harus mewakili sifat-sifat produknya
2. Menjadi jaminan kualitas produk
3. Mewakili reputasi perusahaan yang memproduksinya
4. Harus cocok dengan kesukaan konsumennya
5. Secara visual harus memenuhi kriteria logo yang baik
6. Dan masih banyak lagi

Jadi dalam menilai karya desain, visual/rupa tidak berdiri sendiri, tapi apakah selaras dengan fungsi/konsep di belakangnya. Maka, yang dinilai adalah seluruh dimensinya, baik fisik maupun non-fisik.

Cara yang biasa dipakai untuk menilai karya desain menggunakan patokan dari studi seni murni: FORM, CONTENT, CONTEXT.

1. FORM/rupa
– segi fisik objek desain
– gambar, tulisan, warna, layout, teknik, media, dll.

Contoh pertanyaan untuk menilai:
Bentuknya oke ga? Mengapa pakai ilustrasi, bukan foto? Pakai berapa jenis huruf? Kombinasi warnanya? Layoutnya keramaian? Mengapa pakai vektor, bukan realis? Bahan cetaknya apa? Desainnya responsive ga (UI/UX)? Dll.

2. CONTENT/konten
– segi non-fisik objek desain
– tujuan/pesan yang ingin disampaikan oleh objek desain itu
– makna yang ditangkap oleh audiens
– mengandung unsur psikologis & emosional
– di sini FORM dinilai kecocokannya dengan CONTENT-nya.

Contoh pertanyaan untuk menilai:
Apa pesan yang ingin disampaikan pada audiens? Apakah pesan tersebut sudah tergambarkan dalam visualnya? Apakah cocok dengan gaya desain tsb? Apakah audiens bisa mengerti maksudnya?

3. CONTEXT/konteks
– segi non-fisik yang lebih luas, berkaitan dengan objek desain
– fakta, audience, masalah, sejarah, tujuan, visi/misi
– situasi/kondisi & waktu/tempat di mana objek desain itu berada
– aspek-aspek yang berpengaruh timbal balik dengan objek desain itu: tren, gaya hidup, teknologi, pendidikan, sosial, budaya, bisnis, ekonomi, politik, dll.
– di sini FORM dan CONTENT dinilai kecocokannya dengan CONTEXT-nya.

Contoh pertanyaan untuk menilai:
Desainnya cocok dengan tujuan proyek tsb? Pas dengan kondisi masa kini? Copywriting sesuai dengan sifat perusahaannya? Sejauh mana pengaruh teknologi? Apa dampak sosial dari desain ini?

Itulah 3 aspek yang digunakan untuk menilai karya desain.

Tidak semua desain bobotnya sama. Ada yang sangat sederhana, ada yang sangat kompleks. Sketsa latihan gambar ikan yang saya post ke Instagram misalnya, mungkin hanya perlu dinilai aspek FORM-nya saja. Berbeda dengan proyek penerapan identitas dan media komunikasi Asian Games, yang bisa dinilai hingga aspek CONTEXT.

Jadi, lain kali silahkan pikirkan ketiga aspek penilaian ini sebelum membuat desain, agar menciptakan karya yang makin berkualitas.

Foto: Vitra Design Museum

Penulis: Surianto Rustan